Powered By Blogger

Saturday, April 26, 2014

Mengenal ke-2 Paus ini lebih dekat

Hari ini Minggu, 27 April 2014 Gereja Katolik di seluruh dunia berbahagia karena kanonisasi ke-2 Paus yang terkenal dalam sejarah. Mereka adalah Beato Paus Yohanes XXIII dan Beato Paus Yohanes Paulus II

Mereka adalah Paus yang terkenal dalam abad modern saat ini, apa sih yang membuat mereka begitu dikenal dan menjadi Paus yang disayangi. Berikut adalah kisah-kisah selama mereka berdua memimpin umat Katolik di seluruh dunia.


1. Paus Yohanes XXIII

















Nama aslinya adalah Giuseppe Roncalli dan saat terpilih ia kurang dianggap oleh sebagian besar umat Katolik saat itu. Ia sudah tua saat terpilih dan banyak orang yang beranggapan bahwa ia hanya akan menjadi Paus sementara saja. Tetapi justru ia menjadi Paus yang paling disayangi dan ia disebut sebagai "si paman yang baik" karena ia selalu siap memberi gurauan dan senyuman dalam setiap audiensi.

Jika Paus sebelumnya (Pius XII) selalu makan sendirian, hal itu tidak berlaku baginya. Hanya sehari setelah terpilih menjadi Paus ia menyatakan bahwa ia telah meneliti seluruh isi Alkitab dan ia berkata ia tidak menemukan satu ayat pun yang mengharuskan seorang Paus untuk makan sendirian. Maka setiap kali ia makan ia pasti mengundang beberapa orang untuk makan bersamanya.

Jika Paus sebelumnya meminta semua orang untuk berlutut saat melihatnya (konon bahkan saat berbicara dengan telepon maka si penelepon Paus diharuskan berlutut). Tidak baginya ia bahkan mengajak setiap orang yang berlutut saat melihatnya untuk segera berdiri lagi. Ia tidak bertindak sebagai raja otoriter tetapi ia bertindak sebagai seorang ayah yang baik bagi gereja.

Pada suatu sore hari di Basiliki ia berkata "bukalah jendela dan pintu Vatikan supaya angin segar bisa masuk ke dalam. Ia membuka Konsili Vatikan II pada tahun 1962 dan mengundang semua Uskup untuk datang ke Roma dan menghadiri Konsili Vatikan II yang menjadi sejarah baru Gereja Katolik. Bagi sebagian Katolik moderat, konsili ini dianggap sebagai musim semi baru Gereja. Sayangnya ia meninggal sebelum Konsili Vatikan II selesai

Sampai saat ini antrian umat yang taat mengular di basilika untuk berziarah ke makamnya.


2. Paus Yohanes Paulus II
















Siapa yang tidak kenal dengan Paus gemuk dan lugu ini? Ia adalah Paus yang paling terkenal sepanjang abad modern.

Terlahir dengan nama Karol Wotyjla ia menjalani masa-masa sulit pada awal hidupnya. Ibunya meninggal saat ia berusia 9 tahun, semua kakaknya meninggal satu per satu akibat penyakit. Tinggallah ia berdua dengan ayahnya yang kemudian meninggal saat ia masih duduk di bangku kuliah. Pada usia 20 tahun ia sudah menjadi orang yang sebatang kara. Namun ia selalu berkata bahwa Santa Perawan Maria selalu bersama dan melindunginya, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi Pastor di bawah asuhan Uskup Sapieha.

Saat menjadi Pastor biasa ia tanpa segan-segan menentang para pemimpin komunis yang pada waktu itu menjajah tanah Polandia setelah kekalahan telak Jerman dalam Perang Dunia II. Sesudah menjadi Uskup (ditahbiskan menjadi Uskup oleh Paus Pius XII) ia lebih berani lagi untuk menentang para pemimpin komunis dengan gerakan solidaritas. Ia turut ikut ambil bagian dalam Konsili Vatikan II dan ia berperan besar dalam pembentukan ensiklik "Humanae Vitae" yang berisi pelarangan aborsi dan pengaturan kelahiran berdasarkan KB

Karir penggembalaannya begitu pesat hingga akhirnya ia diangkat menjadi Uskup Agung Warsawa dan kemudian menjadi Kardinal oleh Paus Paulus VI.

Ia akhirnya dipilih menjadi Paus setelah Paus Yohanes Paulus I meninggal dunia setelah hanya 33 hari menjabat sebagai Paus. Sama seperti pendahulunya yang mendobrak tradisisi dengan menggunakan dua nama kepausan. Ia memilih nama Paus Yohanes Paulus II dan uniknya ia mengatur ulang jadwal upacara inagurasinya hanya supaya sebuah pertandingan bola bisa disiarkan juga pada hari itu. Orang Italia pun sangat berterima kasih kepadanya.

Ia berkali-kali terancam dibunuh dan bahkan ia ditembak oleh seorang Turki bernama Mehmet Ali Agca, tapi ia memaafkan penembaknya itu dan malah mengunjunginya dalam penjara. Berkat dirinya pula Ali Agca dibebaskan dari hukuman mati yang dijatuhkan oleh penguasa Fatima, Portugal.

Ia juga sempat nyaris ditusuk oleh seorang mantan Pastor beraliran keras yang bernama "Juan Fernandez Maria Krohn" yang menentang Konsili Vatikan II.

Meski penyakit parkinson terus merongrong kesehatannya namun ia tetap dengan semangat dan dengan penuh kehangatan menggembalakan umat. Sepanjang masa kepausannya ia terus berkeliling dunia untuk memberi bantuan kepada mereka yang miskin. Ia bahkan sempat mengunjungi Indonesia dan mendatangi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan meresmikan Gedung B (Gedung Karol Woytjla) yang saat ini digunakan untuk tempat kuliah Fakultas Ekonomi.

Ia adalah Paus pertama yang berkunjung dan bertemu dengan pemimpin Gereja Anglikan (Ratu Inggris) dan menjadi Paus pertama yang berkunjung ke tembok ratapan, serta mencium Alquran, dan bertemu pemimpin spirtual Budha di Tibet "Dalai Lama" sebanyak 8x. Ia menulis beratus permintaan maaf atas kesalahan Gereja Katolik pada zaman dahulu (Perang Salib, Penyerbuan Konstantinopel, Pemenjaraan Galileo Galileli, dll)

Ia menjadi aktor penting di balik kehancuran Komunis yang ditandai dengan pecahnya Uni Soviet dan runtuhnya tembok Berlin yang menyatukan kembali Jerman Barat dan Jerman Timur.

Setelah melihat kehancuran Uni Soviet dan runtuhnya tembok Berlin ia berkata "apa yang dulu mustahil kini telah menjadi nyata, Komunis akan runtuh untuk selamanya"

Ia akhirnya meninggal dunia pada Sabtu, 2 April 2005 di Istana Apostolik, Vatikan.



Kematiannya amat diratapi seluruh dunia dan hampir seluruh pemimpin dunia datang saat pemakamannya. Bahkan pemimpin Amerika dan Irak yang pada waktu itu sedang berseteru sampai melupakan perang dan memilih untuk bersama menghadiri pemakamannya. Misa Requiem baginya menjadi rekor jumlah umat yang hadir dan jumlah kepala negara yang hadir.


70 presiden dan perdana menteri, 4 raja dan 5 ratu, serta 14 pemimpin agama selain katolik datang bersama untuk menghadiri Misa Requiem baginya.

Ia di beatifikasi oleh Paus Benediktus XVI.

No comments:

Post a Comment